Sabtu, 30 Mei 2009

MANAGING IN A TIME OF GREAT CHANGE


Perubahan yang tak bisa dielakan dan harus oleh para eksekutif untuk zaman ini adalah menciptakan peluang masa depan. Beberapa futurolog yang memiliki ketetapan tinggi telah mencoba menilai kemandekan ekonomi kita. Tetapi apakah prediksi dari segilintir pakar yang telah meramalkan keterpurukan ekonomi dunia di dengarkan? Ataukah karena kita terbuai oleh gebyar – gebyar kehebatan semu ekonomi kita sehingga kita menggapnya angin lalu?

Sepuluh tahun lalu tak pernah terbayangkan pertumbuhan ekonomi yang marak di daratan cina dan Asia Tenggra. Taj pernah terbayangkan munculnya 55 juta orang Cina perantuan sebagai adidaya ekonomi baru. Sepuluh tahun silam tak pernah terbayangkan betapa hebatnya teknologi informasi dapat mendukung bisnis untuk model akuntansi yang di pakai oleh para “penghitung uang”.

Kita tidak dapat membuat keputusan untuk masa depan. Tindakan keputusan selalu di lakukan sekarang. Tetapi tindakan ini merupakan satu – satunya cara untuk menciptakan masa depan.

Dimulai dari tindakan eksekutif, yaitu tugas manajemen. Apakah praktek – praktek yang telah dilakukan selama hampir empat puluh tahun ini bisa dipakai untuk zaman ini yang di tandai dengan aneka perubahan, khususnya perubahan di bidang informasi.

Pada tahun 1940-an muncul teknik – teknik manajemen baru sebanyak sekarang, yaitu downsizing, outsourcing, benchmarking, dan re-enginering. Sarana tersebut menunjukkan “cara mengerjakannya”.

Sedangkan apa yang di kerjakan semakin menjadi tantangan manajemen. Banyak perusahaan yang pada masa lalu menjadi superstar, tapi kemudian frustasi dan akhirnya stagnan. Terjadinya krisis bukan karena pengerjaan yang buruk, tapi karena yang benar di kerjakan tanpa membawa hasil.

Setiap organisasi tentu mempunyai teori bisnis. Contoh, pada tahun 1970, George Siemens pendiri dan CEO Deutsche Bank, mempunyai teori: menggunakan dana perusahaan untuk menyatukan Jerman yang masih terdiri dari banyak districk dan terpecah –pecah, melalui pengembangan industry. Kenyataannya, mereka kena terjang malaise, karena teori bisnis mereka tidak dapat di jalankan lagi.

Ketika organisasi besar mempunyai masalah, banyak penyebab yang di lontarkan. Antara lain Karena ceroboh, puas diri dan terlibat birokrasi yang Arogan.

Contohnya, kita lihat pada masa awal munculnya computer, IBM begitu yakin bahwa computer akan sejalan dengan perkembangan elektronika. Masa depan akan berada di stasiun pusat berupa mainframe yang luar biasa kekuatannya sehingga pengguna jasa bisa menghubungkan diri. Tiba – tiba muncul penemuan computer pribadi (PC). IBM segera menerima PC sebagai realita baru dan ia menjelma sebagai pencipta PC terbesar di dunia. Walaupun luwes, lincah, dan sederhana, IBM pun akhirnya berjalan dengan terseok – seok. Kasus ini sama juga di alami oleh General Motor, milik Rose Perot.

Rose Perot menangguk laba besar dari Electronik Data System. Ia juga membeli Hughes Elektronik yang semula bangkrut dan menyulapnya menjadi “mesin uang” karena ia sekaligus berkecimpung dalam bidang kontraktor pertahanan dan non pertahanan juga. Ia mau membayar lebih karena perusahaan yang di caplok sudah jenuh dan pada akhirnya mendatangkan untung kembali. Tapi di tengah keberhasilannya GM, tidak menyadari kegagalan yang terjadi pada dirinya sendiri. Kebijakan dan praktik serta perilaku yang telah di jalankan selama beberapa dasawarsa tak bisa lagi di jalankan oleh organisasinya.

Tidak ada komentar: